Pendahuluan
Dalam kajian akidah Islam, persoalan
nama (isim) bukan sekadar pembahasan bahasa, tetapi menjadi pintu untuk
memahami hubungan antara lafaz, makna, dan hakikat sesuatu. Kesalahan memahami
istilah-istilah ini dapat berujung pada kekeliruan dalam memahami nama-nama
Allah (Asmaul Husna), yang merupakan fondasi penting dalam ilmu tauhid.
Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali
merumuskan secara sistematis apa yang dimaksud dengan isim, siapa yang
disebut musammi (pemberi nama), apa itu musamma (yang dinamai),
dan apa yang dimaksud dengan tasmiyah (proses penamaan). Beliau juga
memberikan analogi yang sangat menarik dengan konsep gerak (harakah)
untuk menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut memiliki makna yang berbeda
walaupun saling berkaitan.
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Ghazali mengajarkan pentingnya ketelitian dalam memahami istilah sebelum
membahas persoalan akidah yang lebih dalam.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma'illah Al-Husna
Bab: Penjelasan Makna Isim, Musamma, dan Tasmiyah
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali (450–505 H) merupakan
salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Dijuluki Hujjatul
Islam, beliau menguasai berbagai disiplin ilmu seperti akidah, fikih, ushul
fikih, tasawuf, logika, dan filsafat. Dalam Al-Maqshad Al-Asna, beliau
menjelaskan Asmaul Husna dengan pendekatan yang menggabungkan ketepatan bahasa,
logika, dan kemurnian akidah sehingga menjadi rujukan penting bagi para
penuntut ilmu.
Tema
Hakikat Isim, Musamma, Musammi, dan
Tasmiyah dalam Perspektif Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Apabila ada yang bertanya kepada
kami, "Apakah definisi isim?"
Kami menjawab:
Isim adalah lafaz yang diletakkan
untuk menunjukkan suatu makna.
Kadang-kadang kami menambahkan
penjelasan lain agar dapat dibedakan dari fi'il dan huruf.
Namun, pembahasan rinci mengenai definisi
bukanlah tujuan kami saat ini.
Yang menjadi tujuan adalah
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan isim ialah makna yang berada pada
tingkatan ketiga, yaitu lafaz yang terdapat pada lisan, bukan sesuatu yang
berada di alam nyata ataupun di dalam pikiran.
Apabila engkau telah memahami bahwa
isim adalah lafaz yang ditetapkan untuk menunjukkan sesuatu, maka ketahuilah
bahwa setiap lafaz yang ditetapkan pasti memiliki:
- pihak yang menetapkan,
- proses penetapan,
- dan sesuatu yang ditunjuk.
Sesuatu yang ditunjuk disebut musamma,
yaitu objek yang menjadi makna dari lafaz tersebut.
Orang yang menetapkan nama disebut musammi
(pemberi nama).
Sedangkan proses penetapan nama
disebut tasmiyah.
Misalnya dikatakan:
"Seseorang memberi nama
anaknya."
Artinya, ia menetapkan suatu lafaz
untuk menunjukkan anak tersebut.
Proses itu dinamakan tasmiyah.
Kadang-kadang istilah tasmiyah
juga digunakan untuk makna lain, yaitu sekadar menyebut nama yang telah ada.
Misalnya seseorang memanggil orang
lain dengan berkata:
"Wahai Zaid."
Maka dikatakan:
"Ia telah menyebut
namanya."
Jika ia berkata:
"Wahai Abu Bakar."
Maka dikatakan:
"Ia memanggilnya dengan
kunyah."
Dengan demikian, kata tasmiyah
memiliki dua penggunaan:
- memberi nama,
- dan menyebut nama.
Namun penggunaan yang lebih tepat menurut
Imam Al-Ghazali adalah makna memberi nama, bukan sekadar menyebutnya.
Hubungan antara isim, tasmiyah,
musammi, dan musamma dapat diumpamakan seperti hubungan antara:
- gerakan,
- menggerakkan,
- penggerak,
- dan benda yang digerakkan.
Keempat istilah tersebut berbeda
makna.
Gerakan menunjukkan perpindahan dari
satu tempat ke tempat lain.
Menggerakkan berarti menyebabkan
terjadinya gerakan.
Penggerak adalah pelaku yang
menyebabkan gerakan.
Sedangkan benda yang digerakkan
adalah objek yang menerima gerakan.
Setelah makna seluruh istilah
tersebut menjadi jelas, barulah dapat diteliti apakah sebagian darinya dapat
dikatakan identik dengan yang lain ataukah berbeda.
Namun pembahasan itu tidak mungkin
dipahami sebelum mengetahui makna identitas (huwiyyah) dan perbedaan
(ghairiyyah).
Artikel Pengembangan
Definisi Isim Menurut Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali mendefinisikan isim
secara sederhana tetapi sangat mendalam:
Isim adalah lafaz yang diletakkan
untuk menunjukkan suatu makna.
Artinya, isim bukanlah benda yang
ditunjuk, bukan pula gambaran benda dalam pikiran, melainkan kata yang
berfungsi sebagai penunjuk.
Misalnya kata "langit".
Yang disebut isim adalah lafaz langit,
sedangkan langit yang sesungguhnya adalah musamma.
Empat Unsur dalam Proses Penamaan
Menurut Imam Al-Ghazali, setiap
proses penamaan selalu melibatkan empat unsur penting.
1.
Isim
Yaitu nama atau lafaz yang
digunakan.
Contohnya:
- Muhammad,
- Zaid,
- langit,
- bumi.
2.
Musamma
Yaitu objek atau orang yang dinamai.
Jika seseorang bernama Muhammad,
maka orang itulah musamma.
3.
Musammi
Yaitu pihak yang memberi nama.
Misalnya orang tua yang menamai
anaknya.
4.
Tasmiyah
Yaitu proses memberi nama tersebut.
Keempat unsur ini saling berkaitan,
tetapi masing-masing memiliki pengertian yang berbeda.
Mengapa Tasmiyah Memiliki Dua Makna?
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
dalam penggunaan bahasa Arab, kata tasmiyah kadang digunakan untuk dua
hal.
Pertama, memberikan nama
kepada seseorang atau sesuatu.
Kedua, menyebut nama yang
sudah ada.
Namun menurut beliau, makna asal dan
yang lebih kuat adalah proses memberikan nama, sedangkan penggunaan
untuk sekadar menyebut nama merupakan makna turunan.
Penjelasan ini menunjukkan keluasan
perhatian beliau terhadap perkembangan makna dalam bahasa Arab.
Analogi Gerakan
Untuk memudahkan pemahaman, Imam
Al-Ghazali menggunakan contoh yang sangat logis.
Beliau membandingkan istilah-istilah
tersebut dengan empat konsep berikut.
|
Istilah |
Makna |
|
Gerakan |
Perpindahan |
|
Menggerakkan |
Menyebabkan perpindahan |
|
Penggerak |
Pelaku gerakan |
|
Yang digerakkan |
Objek yang menerima gerakan |
Keempat istilah tersebut saling
berkaitan tetapi jelas tidak sama.
Begitu pula:
- isim,
- musamma,
- musammi,
- tasmiyah.
Tidak boleh disamakan hanya karena
memiliki hubungan yang erat.
Hubungannya dengan Asmaul Husna
Pembahasan ini menjadi sangat
penting ketika berbicara tentang nama-nama Allah.
Ketika seorang Muslim mengucapkan Ar-Rahman,
lafaz itulah yang disebut isim.
Dzat Allah Yang Mahamulia adalah musamma.
Allah sendiri adalah musammi,
yaitu Yang menetapkan nama-nama-Nya.
Sedangkan penetapan nama-nama
tersebut merupakan tasmiyah.
Dengan memahami perbedaan ini,
seorang Muslim akan terhindar dari kesalahan dalam memahami hubungan antara
nama Allah dan Dzat-Nya.
Hikmah
Pelajaran penting dari pembahasan
Imam Al-Ghazali ini antara lain:
- Isim adalah lafaz yang menunjukkan suatu makna.
- Musamma adalah objek yang ditunjuk oleh nama.
- Musammi adalah pihak yang menetapkan nama.
- Tasmiyah adalah proses pemberian nama.
- Istilah yang saling berkaitan belum tentu memiliki
makna yang sama.
- Ketelitian dalam memahami istilah merupakan dasar
penting dalam ilmu akidah.
- Memahami hakikat nama membantu seorang Muslim
menghayati makna Asmaul Husna secara benar.
Penutup
Melalui penjelasan yang sangat
sistematis, Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa pembahasan tentang nama bukan
sekadar persoalan tata bahasa, tetapi juga berkaitan erat dengan cara manusia
memahami realitas. Isim, musamma, musammi, dan tasmiyah adalah empat konsep
yang saling berhubungan, tetapi masing-masing memiliki hakikat yang berbeda.
Kesalahan dalam membedakan istilah-istilah ini dapat menyebabkan kekeliruan
dalam memahami persoalan akidah.
Oleh karena itu, sebelum membahas
apakah nama identik dengan yang dinamai atau berbeda darinya, seseorang harus
memahami terlebih dahulu makna setiap istilah tersebut. Inilah metode ilmiah
yang diajarkan Imam Al-Ghazali: mendahulukan kejelasan konsep sebelum
menetapkan kesimpulan. Dengan fondasi seperti ini, pemahaman terhadap Asmaul
Husna akan menjadi lebih kokoh, mendalam, dan sesuai dengan prinsip-prinsip akidah
Islam yang benar.
Teks Arab :
فَإِذا قيل لنا مَا حد الِاسْم
قُلْنَا إِنَّه اللَّفْظ الْمَوْضُوع للدلالة وَرُبمَا نضيف
إِلَى ذَلِك مَا يميزه عَن الْحَرْف وَالْفِعْل
وَلَيْسَ تَحْرِير الْحَد من غرضنا الْآن إِنَّمَا الْغَرَض
أَن المُرَاد بِالِاسْمِ الْمَعْنى الَّذِي هُوَ فِي الرُّتْبَة الثَّالِثَة
وَهُوَ الَّذِي فِي اللِّسَان دون الَّذِي فِي الْأَعْيَان والأذهان
فَإِذا عرفت أَن الِاسْم إِنَّمَا يعْنى بِهِ اللَّفْظ
الْمَوْضُوع للدلالة فَاعْلَم أَن كل مَوْضُوع للدلالة فَلهُ وَاضع وَوضع وموضوع
لَهُ يُقَال للموضوع لَهُ مُسَمّى وَهُوَ الْمَدْلُول عَلَيْهِ من حَيْثُ أَنه يدل
عَلَيْهِ وَيُقَال للواضع المسمي وَيُقَال للوضع التَّسْمِيَة يُقَال سمى فلَان
وَلَده إِذا وضع لفظا يدل عَلَيْهِ ويسمي وَضعه تَسْمِيَة وَقد يُطلق لفظ
التَّسْمِيَة على ذكر الِاسْم الْمَوْضُوع كَالَّذي يُنَادي شخصا وَيَقُول يَا زيد
فَيُقَال سَمَّاهُ فَإِن قَالَ يَا أَبَا بكر يُقَال كناه وَكَانَ
لفظ التَّسْمِيَة مُشْتَركا بَين وضع الِاسْم وَبَين ذكر
الِاسْم وَإِن كَانَ الْأَشْبَه أَنه أَحَق بِالْوَضْعِ مِنْهُ بِالذكر
وَيجْرِي الِاسْم وَالتَّسْمِيَة والمسمى مجْرى الْحَرَكَة
والتحريك والمحرك والمحرك وَهَذِه أَرْبَعَة أسام متباينة تدل على معَان
مُخْتَلفَة فالحركة تدل على النقلَة من مَكَان إِلَى مَكَان والتحريك يدل على
إِيجَاد هَذِه الْحَرَكَة والمحرك يدل على فَاعل الْحَرَكَة والمحرك يدل على
الشَّيْء الَّذِي فِيهِ الْحَرَكَة مَعَ كَونه صادرا من فَاعل لَا كالمتحرك
الَّذِي لَا يدل إِلَّا على الْمحل الَّذِي فِيهِ الْحَرَكَة وَلَا يدل على
الْفَاعِل
فَإِذا ظهر الْآن مفهومات هَذِه الْأَلْفَاظ فَلْينْظر هَل
يجوز أَن يُقَال فِيهَا إِن بَعْضهَا هُوَ الْبَعْض أَو يُقَال إِنَّه غَيره
وَلَا يفهم هَذَا إِلَّا بِمَعْرِفَة معنى الغيرية والهوية
Baca juga:
Pengertian Isim Menurut Imam
Al-Ghazali: Asal-Usul Nama, Fi'il, dan Huruf dalam Bahasa Arab
Pengertian Isim Menurut Imam Al-Ghazali: Asal-Usul Nama, Fi'il, dan Huruf dalam Bahasa Arab
Makna "Isim Itu Adalah Musamma"? Penjelasan
Sinonim Menurut Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshad Al-Asna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar