Wasiat Zuhair bin Ayman mengajarkan pentingnya keadilan, menjaga keluarga, mempersiapkan generasi penerus, dan mempertahankan nilai-nilai kepemimpinan yang baik untuk membangun peradaban yang kuat.
Pendahuluan
Di antara rangkaian wasiat para raja
keturunan Qahtan bin Hud yang diriwayatkan dalam kitab Washaya al-Muluk wa
Abna' al-Muluk min Walad Qahtan bin Hud, terdapat nasihat berharga dari
Zuhair bin Ayman bin Al-Humaysa'. Meskipun tidak sepopuler para leluhurnya
seperti Saba', Himyar, atau Ya'rub, Zuhair memegang peranan penting dalam
menjaga kesinambungan tradisi kepemimpinan yang telah diwariskan turun-temurun
selama beberapa generasi.
Wasiat yang ia sampaikan kepada
putranya, Arib bin Zuhair, bukan hanya berbicara tentang kekuasaan dan
pemerintahan. Di dalamnya terkandung pelajaran mendalam tentang pentingnya
menjaga tradisi yang baik, berlaku adil kepada rakyat, memelihara hubungan
dengan keluarga dan kerabat, serta memahami bahwa kekuatan seseorang tidak
pernah berdiri sendiri.
Pesan-pesan ini tetap relevan hingga
saat ini, baik dalam kehidupan keluarga, organisasi, maupun kepemimpinan di
tengah masyarakat.
Zuhair bin Ayman dan Warisan Kepemimpinan Leluhur
Menurut riwayat, Zuhair bin Ayman
hanya memiliki seorang putra bernama Arib. Karena itulah seluruh harapan dan
amanah keluarga diserahkan kepadanya.
Dalam wasiatnya, Zuhair mengingatkan
Arib tentang sejarah panjang keluarganya yang berasal dari garis keturunan
Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahtan.
Ia mengingatkan bahwa pembagian
tugas dan kekuasaan yang dilakukan oleh Saba' kepada kedua putranya, Himyar dan
Kahlan, telah menjadi dasar kestabilan kerajaan selama beberapa generasi.
Karena itu, Arib diminta untuk tetap
menjalankan pemerintahan sesuai aturan dan tradisi yang telah diwariskan para
leluhurnya.
Pesan ini menunjukkan bahwa
keberhasilan sebuah peradaban sering kali lahir dari kemampuan menjaga
nilai-nilai yang telah terbukti membawa kebaikan.
Pentingnya Menjaga Tradisi yang Baik
Salah satu pesan utama Zuhair adalah
agar putranya tidak mengubah sistem yang telah berjalan dengan baik.
Ia berkata bahwa seluruh aturan yang
diwariskan oleh Himyar dan Kahlan harus tetap dijaga sebagaimana mestinya.
Hal ini bukan berarti menolak perubahan,
tetapi mengajarkan bahwa sebuah masyarakat memerlukan prinsip-prinsip dasar
yang kokoh agar tidak kehilangan arah.
Dalam kehidupan modern, pesan ini
dapat dipahami sebagai pentingnya mempertahankan nilai-nilai luhur seperti
kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan keadilan meskipun zaman terus berubah.
Kemajuan tidak berarti meninggalkan
seluruh warisan masa lalu. Sebaliknya, kemajuan yang sehat adalah kemampuan
mengembangkan masa depan tanpa kehilangan fondasi yang telah terbukti baik.
Menyiapkan Generasi Penerus
Zuhair juga berpesan agar Arib
mempersiapkan penerus setelah dirinya.
Ia menekankan bahwa pemimpin yang
baik bukan hanya memikirkan masa pemerintahannya sendiri, tetapi juga
memastikan adanya generasi yang mampu melanjutkan amanah tersebut.
Dalam wasiatnya ia berkata agar Arib
kelak memilih orang yang paling layak dari anak-anak atau keluarganya untuk
meneruskan urusan kepemimpinan.
Prinsip ini menunjukkan pentingnya
regenerasi dalam setiap organisasi dan komunitas.
Banyak lembaga yang runtuh bukan
karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal mempersiapkan penerus yang
kompeten dan amanah.
Keadilan sebagai Fondasi Kepemimpinan
Selain menjaga tradisi dan
mempersiapkan penerus, Zuhair memberikan perhatian besar terhadap keadilan.
Ia berpesan kepada putranya agar
tetap menjalankan pemerintahan sebagaimana yang telah ia lakukan, yaitu dengan
berlaku adil kepada rakyat.
Keadilan merupakan salah satu pilar
utama dalam setiap pemerintahan yang sukses.
Ketika rakyat merasakan keadilan,
mereka akan memberikan kepercayaan kepada pemimpinnya. Sebaliknya,
ketidakadilan menjadi penyebab utama lahirnya keresahan dan perpecahan.
Nasihat Zuhair menunjukkan bahwa
kekuasaan yang bertahan lama bukanlah kekuasaan yang dibangun dengan ketakutan,
tetapi yang berdiri di atas rasa keadilan.
Memaafkan Orang yang Bersalah
Salah satu bagian menarik dari
wasiat Zuhair adalah pesannya tentang sikap terhadap orang yang melakukan
kesalahan.
Ia menganjurkan putranya untuk
memaafkan dan memberi kesempatan kepada orang yang berbuat salah selama hal itu
tidak merusak tatanan masyarakat.
Sikap pemaaf merupakan salah satu
ciri pemimpin yang matang.
Pemimpin yang bijaksana mampu
membedakan antara kesalahan yang masih bisa diperbaiki dan kesalahan yang
memang memerlukan tindakan tegas.
Dengan demikian, suasana sosial
tetap harmonis tanpa menghilangkan wibawa kepemimpinan.
Menjaga Hubungan dengan Keluarga dan Kerabat
Zuhair secara khusus menekankan
pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga besar dan kerabat.
Ia berkata:
"Jagalah keluargamu, berbuat
baiklah kepada mereka, dan dekatkan dirimu kepada mereka. Sebab seseorang tidak
akan berarti tanpa kaumnya, meskipun ia memiliki kedudukan yang tinggi."
Kalimat ini mengandung hikmah yang
sangat dalam.
Sering kali seseorang merasa cukup
dengan kekayaan, jabatan, atau pengaruh yang dimilikinya. Namun ketika
menghadapi kesulitan besar, ia akan menyadari pentingnya keluarga dan
orang-orang yang dekat dengannya.
Bagi masyarakat Arab kuno, keluarga
merupakan benteng pertama yang melindungi seseorang dari berbagai ancaman.
Prinsip ini masih berlaku hingga
sekarang. Hubungan keluarga yang harmonis menjadi sumber kekuatan emosional,
sosial, dan moral yang sangat berharga.
Perumpamaan Rumah Tanpa Fondasi
Untuk menjelaskan pentingnya keluarga
dan komunitas, Zuhair menggunakan perumpamaan yang indah dalam syairnya.
Ia menggambarkan bahwa sebuah rumah
tidak mungkin berdiri kokoh tanpa fondasi, tiang, dan penyangga.
Sebagus apa pun bangunan yang
didirikan, semuanya akan runtuh jika tidak memiliki dasar yang kuat.
Demikian pula manusia.
Setinggi apa pun kedudukannya, ia
tetap membutuhkan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mendukungnya.
Tanpa mereka, kekuatannya akan rapuh
dan mudah runtuh ketika menghadapi ujian kehidupan.
Kekuatan Singa dan Perlindungan Kelompok
Dalam syairnya, Zuhair juga
memberikan perumpamaan lain yang menarik.
Ia menggambarkan seekor singa yang
kuat sekalipun tetap membutuhkan sarang dan tempat berlindung.
Singa tidak hidup sendirian tanpa
wilayah atau lingkungan yang mendukungnya.
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa
tidak ada manusia yang benar-benar mandiri.
Setiap orang memerlukan lingkungan
yang mendukung agar dapat berkembang dan mempertahankan keberhasilannya.
Bahaya Hasad dalam Kehidupan Sosial
Di akhir syairnya, Zuhair
mengingatkan tentang bahaya hasad atau dengki.
Menurutnya, kenikmatan hidup dan
ketenteraman seseorang akan tetap terjaga selama ia tidak menjadi sasaran iri
hati dari saudara-saudaranya sendiri.
Hasad merupakan penyakit sosial yang
dapat menghancurkan persatuan keluarga, persahabatan, dan masyarakat.
Karena itu, menjaga hubungan baik,
memperlakukan orang lain dengan adil, dan menghindari sikap yang menimbulkan
kecemburuan berlebihan menjadi bagian penting dari kebijaksanaan sosial.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Zuhair bin Ayman
Wasiat Zuhair mengandung banyak
pelajaran yang masih relevan hingga sekarang.
1.
Jagalah Warisan Nilai yang Baik
Tradisi yang dibangun di atas
kebaikan dan keadilan layak untuk dipertahankan dari generasi ke generasi.
2.
Persiapkan Generasi Penerus
Keberhasilan sebuah organisasi atau
keluarga bergantung pada kemampuan mempersiapkan penerus yang amanah.
3.
Berlaku Adil kepada Semua Orang
Keadilan adalah fondasi utama
kepercayaan masyarakat kepada pemimpin.
4.
Peliharalah Hubungan Keluarga
Keluarga dan kerabat merupakan
sumber kekuatan yang tidak tergantikan.
5.
Jangan Meremehkan Pentingnya Dukungan Sosial
Sebagaimana rumah membutuhkan
fondasi, manusia juga membutuhkan komunitas yang mendukungnya.
6.
Jauhi Hasad dan Dengki
Kedengkian hanya akan menghancurkan
hubungan baik yang telah dibangun dengan susah payah.
Penutup
Wasiat Zuhair bin Ayman kepada
putranya, Arib bin Zuhair, menunjukkan bahwa rahasia keberhasilan sebuah
kepemimpinan bukan hanya terletak pada kekuasaan atau kekuatan militer. Yang
jauh lebih penting adalah kemampuan menjaga tradisi yang baik, berlaku adil
kepada rakyat, memelihara hubungan keluarga, dan menyiapkan generasi penerus
yang amanah.
Melalui nasihat yang sederhana namun
penuh hikmah ini, Zuhair mengajarkan bahwa manusia tidak pernah hidup
sendirian. Kekuatan sejati lahir dari hubungan yang baik dengan keluarga,
masyarakat, dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Karena itulah, pesan-pesan yang
disampaikan lebih dari seribu tahun lalu ini tetap memiliki nilai dan relevansi
bagi kehidupan modern hingga hari ini.
Referensi:
وصية زهير بن أيمن
وحدثنا علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن زهير بن
أيمن بن الهميسع وصى ابنه عريب بن زهير ولم يكن له ولد غيره، فقال: يا بني، قد
انتهى إليك ما كان من وصية جدك سبأ بن يشجب بن يعرب، وما افترق عليه ابناه يوم
الوصية والقسمة، وهما جداك حمير وكهلان فلا تجرين الأمر إلا على ما جرت به الرسوم
من لدنهما إلى هذه الغاية. وأوصِ بعدك من يصلح لهذا الأمر من ولدك ومن إخوتك.
وأوصيك بالثبات على ما وجدتني عليه من العدل في الرعية والتجاوز عن المسيء والكف
عن أذى العشيرة، والتحفظ بها والتحبب إليها، فما المرء إلا بقومه ولو عز. وأنشأ
يقول: «من البسيط»
عَريبُ لا تنسَ ما وصَّى أبُوكَ بهِ ... إنَّ الوصية
لمَّا يعدُها الرَّشَدُ
كلُّ امرئٍ عِزُّهُ ... فاعلم عشيرتُهُ وفي العشيرةِ
يُلغى العِزُّ والعددُ
ما البيتُ لو لمْ يكنْ فوقَ الأساسِ ولم ... تقلّه
دعمٌ للسعف والعَمَدُ
لولا الغَريفُ ولولا خيسُ غابَتهِ ... لما سطا موهِنًا
بالقُدرةِ الأسدُ
فضيلة المرء تؤويه وتعضدُهُ ... إن الذليلَ الذي ليست
لهُ عَضُدُ
والمرءُ تسلمُ دُنياهُ ونعِمتُهُ ... ما ليسَ يأتيهِ
من إخوانِهِ الحسدُ
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Arib bin
Zuhair: Enam Rahasia Kemuliaan, Kepemimpinan, dan Kekuasaan Menurut Raja Arab
Kuno
WasiatHimyar bin Saba: Rahasia Persatuan, Kepemimpinan, dan Kejayaan Sebuah Kerajaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar