Title: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 5): Empat Golongan Manusia Berdasarkan Cara Mereka Menggunakan Akal
Pendahuluan
Apa yang membedakan manusia yang
benar-benar berakal dengan manusia yang hanya memiliki kecerdasan biasa?
Imam Al-Harits Al-Muhasibi menjelaskan
bahwa tidak semua orang yang memiliki akal otomatis memperoleh manfaat dari
akalnya. Bahkan, ada orang yang memahami kebenaran namun menolaknya, ada yang
tersesat karena kesombongan, dan ada pula yang beriman tetapi masih lalai dalam
ketaatan.
Dalam pembahasan ini, Al-Muhasibi
membagi manusia menjadi empat golongan berdasarkan bagaimana mereka menggunakan
akal yang Allah karuniakan kepada mereka.
Pembagian ini sangat penting karena
membantu kita memahami posisi diri kita dalam perjalanan menuju Allah.
Golongan Pertama: Mereka yang
Mengenal Allah dan Tunduk kepada-Nya
Golongan pertama adalah orang-orang
yang menggunakan akalnya untuk memahami keagungan Allah.
Mereka memahami:
- kebesaran Allah,
- kekuasaan-Nya,
- janji surga,
- ancaman neraka,
- serta tujuan penciptaan manusia.
Karena pemahaman tersebut, mereka:
- beriman,
- taat,
- khusyuk,
- takut kepada Allah,
- dan selalu berusaha mendekat kepada-Nya.
Inilah golongan yang memperoleh
manfaat sempurna dari akalnya.
Mereka tidak hanya mengetahui
kebenaran, tetapi juga mengamalkannya.
Akal yang Melahirkan Ketundukan
Menurut Al-Muhasibi, akal yang benar
akan menghasilkan tiga hal:
- Pengetahuan tentang Allah.
- Kesadaran akan konsekuensi amal.
- Ketaatan kepada Allah.
Semakin seseorang memahami Allah,
semakin besar rasa takut dan harapnya kepada-Nya.
Karena itu ukuran akal dalam Islam
bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi kemampuan tunduk kepada kebenaran.
Golongan Kedua: Memahami Kebenaran
tetapi Menolaknya
Golongan kedua adalah orang-orang
yang sebenarnya memahami kebenaran, namun menolaknya karena kesombongan dan
kepentingan dunia.
Mereka mengetahui yang benar, tetapi
tidak mau mengikutinya.
Al-Muhasibi mencontohkan kelompok
ini dengan:
- Iblis,
- sebagian Ahli Kitab,
- dan siapa saja yang menolak kebenaran setelah
mengetahuinya.
Tentang Iblis, Allah berfirman:
"Maka demi kemuliaan-Mu,
sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya."
Iblis mengetahui keberadaan Allah.
Ia memahami perintah Allah.
Namun kesombongan membuatnya
membangkang.
Begitu pula sebagian Ahli Kitab yang
mengenali kebenaran Nabi Muhammad ﷺ
tetapi menyembunyikannya demi kepentingan dunia.
Allah berfirman:
"Mereka menyembunyikan
kebenaran padahal mereka mengetahuinya."
Bahaya Menukar Kebenaran dengan Dunia
Al-Qur'an menggambarkan mereka
sebagai orang-orang yang:
"Menjualnya dengan harga yang
murah."
Artinya mereka mengetahui kebenaran,
tetapi lebih memilih keuntungan dunia yang sementara.
Inilah salah satu bentuk kegagalan
akal.
Bukan karena tidak tahu, melainkan
karena tidak mau tunduk.
Golongan Ketiga: Tersesat karena
Taklid dan Kesombongan
Golongan ketiga berbeda dengan
golongan kedua.
Mereka tidak sampai memahami
kebenaran secara utuh karena terhalang oleh:
- fanatisme,
- taklid buta,
- kesombongan,
- dan kekaguman terhadap pendapat sendiri.
Mereka mengira sedang berada di
jalan yang benar, padahal sebenarnya tersesat.
Allah berfirman:
"Mereka mengira bahwa mereka
telah berbuat sebaik-baiknya."
Dan Allah juga berfirman:
"Apakah orang yang dihiasi
keburukan amalnya sehingga ia memandangnya sebagai sesuatu yang baik?"
Inilah bahaya terbesar dari kesesatan.
Seseorang tidak merasa dirinya
salah.
Karena itu ia tidak pernah berusaha
memperbaiki diri.
Ketika Akal Dikalahkan oleh Ego
Menurut Al-Muhasibi, masalah utama
mereka bukan kekurangan kecerdasan.
Mereka memiliki akal.
Mereka memahami banyak hal.
Namun ego dan hawa nafsu menutupi
kemampuan mereka untuk melihat kebenaran.
Akibatnya mereka tetap berjalan di
jalan yang salah sambil meyakini bahwa dirinya benar.
Golongan Keempat: Beriman tetapi
Belum Sempurna Akalnya
Golongan terakhir adalah kelompok
yang sangat menarik.
Mereka:
- memahami pentingnya iman,
- mengetahui bahaya kekafiran,
- beriman kepada Allah,
- dan tidak menolak kebenaran.
Namun mereka belum memiliki
pemahaman yang mendalam tentang:
- keagungan Allah,
- kedahsyatan hari akhir,
- besarnya pahala,
- dan beratnya azab.
Akibatnya mereka masih sering:
- lalai,
- bermaksiat,
- menunda ketaatan,
- dan mengikuti hawa nafsu.
Mereka mengetahui bahwa dirinya
salah, tetapi belum mampu meninggalkan kesalahan tersebut.
Mengapa Mereka Masih Bermaksiat?
Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
penyebabnya adalah kurangnya penghayatan terhadap:
- murka Allah,
- keridaan Allah,
- pahala,
- dan siksa.
Mereka memiliki iman dan pemahaman
dasar.
Tetapi tingkat kesadaran mereka
belum cukup kuat untuk mengalahkan hawa nafsu.
Karena itu mereka masih terjatuh
dalam berbagai dosa.
Semakin Dalam Pemahaman, Semakin Besar Ketaatan
Al-Muhasibi menegaskan bahwa jika
pemahaman mereka tentang Allah semakin bertambah, maka mereka akan:
- lebih banyak menjalankan kewajiban,
- meninggalkan maksiat,
- memperbanyak taubat,
- dan semakin dekat kepada Allah.
Artinya peningkatan kualitas akal
akan menghasilkan peningkatan kualitas amal.
Mengapa Banyak Orang Pintar tetapi
Lalai terhadap Akhirat?
Setelah menjelaskan empat golongan
manusia, Al-Muhasibi mengingatkan bahwa hampir semua manusia memiliki kemampuan
berpikir untuk urusan dunia.
Mereka mampu:
- berdagang,
- bekerja,
- membangun kehidupan,
- dan mengatur masa depan.
Namun kebanyakan dari mereka tidak
menggunakan akal yang sama untuk memikirkan akhirat.
Karena itu Allah berfirman:
"Mereka mempunyai hati tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami."
Dan juga:
"Mereka mempunyai mata tetapi
tidak dipergunakannya untuk melihat."
Bukan berarti mereka buta atau tuli
secara fisik.
Yang dimaksud adalah mereka tidak
menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Pengakuan Penghuni Neraka
Al-Muhasibi kemudian mengutip salah
satu ayat yang paling menggugah dalam Al-Qur'an.
Allah menceritakan ucapan penghuni
neraka:
"Sekiranya dahulu kami mau
mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka
yang menyala-nyala."
Ayat ini menunjukkan bahwa masalah
mereka bukan karena tidak memiliki akal.
Mereka memiliki:
- pendengaran,
- penglihatan,
- dan kemampuan berpikir.
Namun mereka tidak menggunakan
semuanya untuk memahami petunjuk Allah.
Penyesalan itu baru datang ketika
kesempatan telah berakhir.
Akal Dunia dan Akal Akhirat
Salah satu pelajaran besar dari
pembahasan ini adalah perbedaan antara:
Akal
Dunia
Digunakan untuk:
- mencari keuntungan,
- menghindari kerugian,
- mengatur kehidupan,
- mencapai kesuksesan duniawi.
Akal
Akhirat
Digunakan untuk:
- mengenal Allah,
- memahami tujuan hidup,
- mempersiapkan kematian,
- mencari keselamatan di akhirat.
Menurut Al-Muhasibi, banyak manusia
memiliki akal dunia, tetapi sedikit yang menggunakan akalnya untuk akhirat.
Kesimpulan
Imam Al-Muhasibi membagi manusia
menjadi empat golongan berdasarkan cara mereka menggunakan akalnya. Ada yang
menggunakan akalnya untuk mengenal Allah dan taat kepada-Nya, ada yang memahami
kebenaran tetapi menolaknya, ada yang tersesat karena taklid dan kesombongan,
dan ada pula yang beriman namun masih lemah dalam pengamalan.
Pembahasan ini mengajarkan bahwa
akal bukan sekadar kemampuan berpikir, melainkan sarana untuk mengenal Allah,
memahami kebenaran, dan mengamalkannya. Semakin baik seseorang menggunakan
akalnya untuk akhirat, semakin dekat ia kepada keselamatan dan keridaan Allah.
Hikmah dan Pesan Moral
Akal yang paling berharga bukanlah
akal yang mampu mencari keuntungan dunia, tetapi akal yang mampu menunjukkan
jalan menuju keselamatan akhirat. Sebab kecerdasan yang tidak mengantarkan
kepada Allah pada akhirnya hanya akan menjadi penyesalan yang terlambat.
Referensi:
فَهَذِهِ أَربع فرق
فرقة عقلت عَن الله تَعَالَى عظم قدره وَقدرته وَمَا
وعد وتوعد فأطاعت وخشعت
وَفرْقَة عقلت الْبَيَان ثمَّ جحدت كبرا وعنادا لطلب
الدُّنْيَا كَمَا وصف عَن إِبْلِيس أَنه تكبر وعاند كبرا وَهُوَ مَعَ ذَلِك يَقُول
﴿فبعزتك لأغوينهم أَجْمَعِينَ﴾ وَوصف الْيَهُود ١٠٨ فَقَالَ ﴿ليكتمون الْحق وهم
يعلمُونَ﴾
وَقَالَ ﴿وجحدوا بهَا واستيقنتها أنفسهم ظلما وعلوا﴾
وَقَالَ ﴿يعلمُونَ أَنه منزل من رَبك بِالْحَقِّ﴾
وَقَالَ ﴿واشتروا بِهِ ثمنا قَلِيلا فبئس مَا
يشْتَرونَ﴾
وَفرْقَة طغت وأعجبت وقلدت فعميت عَن الْحق أَن تتبينه
ثمَّ تقر بِهِ ثمَّ تجحده كبرا وَطلبت دنيا بعد عقلهَا للْبَيَان فظنت أَنَّهَا
على حق وَدين وَهِي على بَاطِل وَشر وضلال
وَفرْقَة رعة عقلت قدر الله عز وجل فِي تَدْبيره
وتفرده بالصنع وَعرفت قدر الْإِيمَان فِي النجَاة بالتمسك بِهِ وَقدر الْعقَاب فِي
ضَرَره فِي مجانبة الْإِيمَان فَلم يجحدوا كبرا وَلَا أَنَفَة وَلَا طلب دنيا
لعقلها أَن عَاجل الدُّنْيَا يفنى وَعَذَاب الْآخِرَة لَا يفنى فأقرت وَآمَنت وَلم
تعقل عَظِيم قدر الله فِي هيبته وجلاله وعظيم قدر ثَوَابه وعقابه فِي إتْيَان
مَعَاصيه وَالْقِيَام بفرايضه فعصت وضيعت وغفلت ونسيت إِلَّا أَنَّهَا علمت عَظِيم
قدر الْإِيمَان فِي النجَاة وعظيم ضَرَر الْكفْر قد عقلته عَن الله تَعَالَى
فَهِيَ قَائِمَة بِهِ دائمة عَلَيْهِ
ثمَّ بعد عقله قدر الْإِيمَان يزْدَاد معرفَة بِقدر
الْغَضَب والوعيد والوعد
فَإِن ازْدَادَ طَائِفَة قَامَ بطَائفَة من الْفُرُوض
وَترك بعض الْمعاصِي وَإِلَّا ضيع بعض الْفُرُوض وَركب بعض الْمعاصِي من أجل
الْهوى وَمَعَهُ عقل الْبَيَان وَالْإِقْرَار فعقل أَنه مسيء وَلم يرجع عَن إساءته
لغَلَبَة الْهوى
وَلَو ازْدَادَ عقلا بعظيم قدر الْغَضَب والرضى
وَالثَّوَاب وَالْعِقَاب لاستعمل مَا عقل من الْبَيَان وَأقر بِهِ بِأَنَّهُ حق
فَتَابَ وأناب
وَجَمِيع الممتحنين المأمورين من الْعُقَلَاء البالعين
كلهم لَهُم عقول يميزون بهَا أُمُور الدُّنْيَا كلهَا الْجَلِيل والدقيق
وَأَكْثَرهم للآخرة لَا يعْقلُونَ
ألم تسمعه عز وجل يَقُول ﴿وتراهم ينظرُونَ إِلَيْك وهم
لَا يبصرون﴾
وَقَالَ جلّ ثَنَاؤُهُ ﴿لَهُم قُلُوب لَا يفقهُونَ
بهَا وَلَهُم أعين لَا يبصرون بهَا وَلَهُم آذان لَا يسمعُونَ بهَا﴾
وهم بالدنيا أهل بصر وَسمع وعقل وَلم يعن أَنهم صم خرس
مجانين وَإِنَّمَا عذبهم لأَنهم يعْقلُونَ لَو تدبروا مَا يرَوْنَ
ويسمعون من الدَّلَائِل عَلَيْهِ من آيَات الْكتاب
وآثار الصَّنْعَة واتصال التَّدْبِير الَّذِي يدل عَلَيْهِ أَنه وَاحِد لَا شريك
لَهُ
وَحكى تَعَالَى قَول أهل النَّار فَقَالَ ﴿وَقَالُوا
لَو كُنَّا نسْمع أَو نعقل مَا كُنَّا فِي أَصْحَاب السعير﴾
وَقد كَانَت لَهُم عقول وأسماع لزمتهم بهَا الْحجَّة
لله عز وجل وَإِنَّمَا عَنى عز وجل أَنَّهَا لم تعقل عَن الله فهما لما قَالَ من
عَظِيم قدر عَذَابه فندمت وَنَادَتْ بِالْوَيْلِ والندم لَا أَنَّهَا لم تكن تسمع
وَلَا تعقل وَلَا كَانُوا بمجانين وَلَكِن يعْقلُونَ أَمر الدُّنْيَا وَلَا
يعْقلُونَ عَن الله مَا أخبر عَنهُ ووعد وتوعد
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Kapan Seseorang
Disebut Benar-Benar Berakal Menurut Imam Al-Muhasibi?
%20Empat%20Golongan%20Manusia%20Berdasarkan%20Cara%20Mereka%20Menggunakan%20Akal.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar