Pendahuluan
Dalam pembahasan cinta klasik, para
ulama dan sastrawan tidak hanya mengulas sisi-sisi indah dari hubungan manusia.
Mereka juga menyoroti berbagai penyimpangan yang sering terjadi ketika cinta
tidak lagi dipimpin oleh kebijaksanaan, melainkan oleh hawa nafsu dan keinginan
yang tak terkendali.
Salah satu tema menarik yang dibahas
Ibnu Hazm dalam Ṭawq al-Ḥamāmah adalah apa yang beliau sebut sebagai al-Mukhālafah
(المخالفة), yaitu sikap seorang pecinta yang memilih
mengikuti keinginannya sendiri meskipun bertentangan dengan kehendak orang yang
dicintainya.
Jika pada bab sebelumnya Ibnu Hazm
berbicara tentang ketaatan pecinta kepada kekasihnya, maka dalam bab ini beliau
menunjukkan sisi lain yang sangat berbeda. Ada pecinta yang rela mengalah demi
kebahagiaan orang yang dicintai, tetapi ada pula yang justru menjadikan
cintanya sebagai alasan untuk memaksakan kehendak.
Perbedaan antara keduanya sangat
tipis, tetapi akibatnya sangat besar.
Satu melahirkan kasih sayang.
Yang lain melahirkan egoisme.
Ketika Hasrat Mengalahkan Pertimbangan
Ibnu Hazm memulai pembahasannya
dengan menggambarkan seorang pecinta yang mengikuti dorongan hatinya tanpa
memperhatikan apakah orang yang dicintainya menyukai atau membenci tindakannya.
Baginya yang penting adalah satu
hal:
Ia mendapatkan apa yang
diinginkannya.
Ia memperoleh kesempatan yang selama
ini dicari.
Ia mencapai tujuan yang telah lama
diimpikan.
Persoalan apakah kekasihnya ridha
atau marah tidak lagi menjadi pertimbangan utama.
Dalam keadaan seperti ini, cinta
mulai kehilangan salah satu unsur terpentingnya, yaitu perhatian terhadap
perasaan pihak lain.
Hubungan tidak lagi berpusat pada
"kita", tetapi berubah menjadi "aku".
Dan di sinilah awal dari banyak
masalah.
Dua Wajah Cinta
Dalam kehidupan nyata, cinta sering
memiliki dua wajah yang sangat berbeda.
Wajah pertama adalah cinta yang
memberi.
Cinta yang ingin membahagiakan.
Cinta yang memperhatikan kenyamanan
orang lain.
Cinta yang rela berkorban.
Adapun wajah kedua adalah cinta yang
ingin memiliki.
Cinta yang menuntut.
Cinta yang memaksa.
Cinta yang berusaha memuaskan
dirinya sendiri tanpa memedulikan keadaan orang lain.
Sekilas keduanya tampak sama.
Keduanya mengaku mencintai.
Keduanya berbicara tentang
kerinduan.
Keduanya menginginkan kedekatan.
Namun hakikat keduanya berbeda jauh.
Cinta yang pertama berakar pada
kasih sayang.
Cinta yang kedua berakar pada ego.
Ketika Kesempatan Datang
Ibnu Hazm mengakui bahwa ada
orang-orang yang berhasil mencapai apa yang mereka inginkan melalui jalan
semacam ini.
Mereka mendapatkan kesempatan.
Mereka berhasil mendekati orang yang
dicintai.
Mereka memperoleh apa yang selama
ini dicari.
Kesedihan mereka berakhir.
Kegelisahan mereka hilang.
Kerinduan mereka terobati.
Harapan mereka menjadi kenyataan.
Secara lahiriah, mereka tampak
sebagai pemenang.
Mereka mendapatkan apa yang
diinginkan.
Mereka mencapai tujuan yang selama
ini diperjuangkan.
Tetapi pertanyaan pentingnya adalah:
Apakah keberhasilan semacam itu
selalu membawa kebahagiaan sejati?
Belum tentu.
Karena hubungan yang dibangun di
atas paksaan sering kali kehilangan unsur paling penting dalam cinta, yaitu
kerelaan.
Mengapa Sebagian Orang Memaksakan Kehendak?
Fenomena ini tidak hanya terjadi
dalam kisah cinta klasik.
Kita juga dapat melihatnya dalam
kehidupan modern.
Ada orang yang merasa bahwa cintanya
memberi hak untuk menguasai.
Ada yang menganggap bahwa rasa
sayang membolehkan dirinya mengatur kehidupan orang lain.
Ada yang berpikir bahwa selama ia
mencintai seseorang, maka apa pun yang dilakukan demi mendapatkan orang
tersebut menjadi sah.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Cinta bukanlah surat izin untuk
mengabaikan kehendak orang lain.
Cinta juga bukan alasan untuk
melanggar batas-batas yang seharusnya dihormati.
Ketika seseorang mulai merasa bahwa
keinginannya lebih penting daripada kenyamanan orang yang dicintainya, saat
itulah cinta mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.
Perbedaan antara Cinta dan Kepemilikan
Salah satu kesalahan terbesar dalam
memahami cinta adalah menyamakan cinta dengan kepemilikan.
Padahal keduanya berbeda.
Mencintai seseorang tidak berarti
memiliki seluruh kehidupannya.
Tidak berarti mengendalikan seluruh
pilihannya.
Tidak berarti memaksa dirinya untuk
memenuhi semua harapan kita.
Cinta yang matang memahami bahwa
orang yang dicintai tetap memiliki hak atas dirinya sendiri.
Ia memiliki perasaan.
Ia memiliki kehendak.
Ia memiliki batas-batas yang harus
dihormati.
Ketika batas-batas itu dilanggar,
hubungan mungkin tetap bertahan secara lahiriah, tetapi kehilangan ruhnya.
Bahaya Mengikuti Nafsu Sesaat
Dalam syair yang dikutip Ibnu Hazm,
terdapat gambaran seseorang yang berkata bahwa ketika ia berhasil mencapai apa
yang diinginkannya, ia tidak lagi peduli apakah orang yang dicintainya ridha
atau marah.
Ia mengibaratkan dirinya seperti
seseorang yang menemukan air setelah kehausan panjang.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah
memadamkan dahaga.
Perumpamaan ini sangat kuat.
Karena nafsu memang sering bekerja
seperti rasa haus yang berlebihan.
Ketika haus sangat kuat, seseorang
hanya memikirkan air.
Ia tidak memikirkan akibatnya.
Ia tidak memikirkan cara
mendapatkannya.
Ia hanya ingin memuaskan kebutuhan
yang dirasakan saat itu.
Demikian pula dengan cinta yang
tidak terkendali.
Ia dapat membuat seseorang
kehilangan kemampuan melihat gambaran yang lebih besar.
Kebahagiaan yang Tidak Lengkap
Ada satu pelajaran penting yang
dapat diambil dari pembahasan ini.
Yaitu bahwa mendapatkan apa yang diinginkan
tidak selalu berarti mendapatkan kebahagiaan.
Banyak orang berpikir:
"Jika aku berhasil mendapatkan
orang yang kucintai, maka semua masalah akan selesai."
Namun kenyataannya tidak sesederhana
itu.
Hubungan yang sehat membutuhkan
lebih dari sekadar keberhasilan mencapai tujuan.
Ia membutuhkan rasa hormat.
Ia membutuhkan kerelaan.
Ia membutuhkan kenyamanan kedua
belah pihak.
Jika salah satu pihak merasa
terpaksa, maka kebahagiaan yang lahir biasanya tidak bertahan lama.
Karena hati manusia tidak dapat
dipaksa untuk mencintai.
Pelajaran dari Kehidupan Sehari-Hari
Fenomena ini dapat ditemukan dalam
berbagai bentuk.
Ada orang yang terus menghubungi
seseorang meskipun sudah berkali-kali diminta berhenti.
Ada yang memaksa kedekatan ketika
pihak lain membutuhkan ruang.
Ada yang menganggap penolakan
sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.
Ada pula yang merasa bahwa keteguhan
cintanya membenarkan semua tindakannya.
Padahal sering kali yang terjadi
bukan lagi cinta, melainkan ketidakmampuan menerima kenyataan.
Perbedaan antara keduanya sangat
penting untuk dipahami.
Karena cinta yang sehat menghormati
kebebasan.
Sedangkan obsesi berusaha menguasai.
Menghormati Kehendak Orang yang Dicintai
Salah satu ciri kedewasaan emosional
adalah kemampuan menghormati pilihan orang lain meskipun pilihan itu tidak
sesuai dengan keinginan kita.
Ini bukan hal yang mudah.
Bahkan sangat sulit.
Karena manusia secara alami ingin
mendapatkan apa yang dicintainya.
Namun justru di situlah letak
kemuliaannya.
Seseorang yang mampu menahan diri
ketika memiliki kesempatan untuk memaksa menunjukkan kualitas jiwa yang tinggi.
Ia membuktikan bahwa cintanya tidak
semata-mata berpusat pada dirinya sendiri.
Ia mampu melihat kebutuhan dan
perasaan orang lain.
Kemampuan seperti ini jauh lebih
berharga daripada sekadar keberhasilan mendapatkan apa yang diinginkan.
Ketika Ego Menyamar Sebagai Cinta
Salah satu bahaya terbesar dalam
hubungan adalah ketika ego menyamar sebagai cinta.
Kalimat-kalimat seperti:
- "Aku melakukan ini karena mencintaimu."
- "Aku tidak bisa hidup tanpamu."
- "Aku hanya ingin bersamamu."
kadang terdengar romantis.
Namun dalam beberapa keadaan,
kalimat-kalimat tersebut sebenarnya menyembunyikan keinginan untuk
mengendalikan.
Bukan lagi tentang kebahagiaan
bersama.
Melainkan tentang pemenuhan
kebutuhan pribadi.
Ibnu Hazm secara tidak langsung
mengingatkan bahwa tidak semua yang mengatasnamakan cinta benar-benar lahir
dari cinta.
Kadang-kadang yang berbicara adalah
ego.
Kadang-kadang yang berbicara adalah
hasrat.
Kadang-kadang yang berbicara
hanyalah ketidakmampuan menerima penolakan.
Antara Keberanian dan Pemaksaan
Ada perbedaan besar antara
keberanian memperjuangkan cinta dan pemaksaan kehendak.
Memperjuangkan cinta berarti
berusaha dengan cara yang baik, menghormati batas-batas, dan menerima
kemungkinan ditolak.
Sedangkan pemaksaan terjadi ketika
seseorang menganggap bahwa keinginannya harus dipenuhi apa pun akibatnya.
Perjuangan yang sehat selalu
disertai penghormatan terhadap pihak lain.
Sebaliknya, pemaksaan hanya berpusat
pada diri sendiri.
Karena itu seseorang perlu terus
bertanya kepada dirinya:
Apakah aku sedang memperjuangkan
cinta?
Atau aku sedang memperjuangkan ego?
Hikmah yang Relevan di Era Modern
Di zaman media sosial, batas antara
cinta dan obsesi sering kali menjadi kabur.
Teknologi memungkinkan seseorang
terus mengawasi, menghubungi, atau mengejar orang yang disukainya.
Akibatnya, banyak orang kehilangan
kemampuan untuk menerima batas dan penolakan.
Padahal salah satu bentuk cinta yang
paling dewasa adalah memahami bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Tidak semua harapan akan menjadi
kenyataan.
Tidak semua rasa memiliki harus
diwujudkan.
Dan tidak semua orang yang kita
cintai ditakdirkan menjadi milik kita.
Kesadaran semacam ini memang
menyakitkan.
Tetapi justru menjadi tanda
kematangan emosional.
Penutup
Dalam bab al-Mukhālafah, Ibnu
Hazm menunjukkan sisi lain dari cinta yang jarang dibahas. Tidak semua pecinta
tunduk kepada orang yang dicintainya. Sebagian justru memilih mengikuti
keinginan sendiri dan mengabaikan perasaan pihak lain.
Mungkin mereka berhasil mencapai apa
yang diinginkan. Mungkin mereka memperoleh apa yang selama ini dicari. Namun
keberhasilan semacam itu tidak selalu identik dengan kebahagiaan.
Cinta sejati bukan hanya tentang
mendapatkan. Ia juga tentang menghormati.
Bukan hanya tentang memenuhi
keinginan diri sendiri. Ia juga tentang menjaga kenyamanan orang yang dicintai.
Karena pada akhirnya, cinta yang
matang tidak lahir dari hasrat untuk memiliki, melainkan dari kemampuan
menghargai hati orang lain sebagaimana kita menghargai hati kita sendiri.
Referensi:
باب
المخالفة
وربما اتبع المحب شهوته وركب
رأسه فبلغ شفاءه من محبوبه، وتعمد مسرته منه على كل الوجوه، سخط أو رضي.
ومن ساعده الوقت على هذا وثبت
جنانه وأتيحت له الأقدار استوفى لذته جميعها، وذهب غمه، وانقطع همه، ورأى أمله،
وبلغ مرغوبه.
وقد رأيت من هذه صفته؛ وفي
ذلك أقول أبياتًا منها: [من السريع] إذا أنا بلغت نفسي المنى من رشأ ما زال لي
ممرضا فما أبالي الكره من طاعة ... ولا أبالي سخطًا من رضى إذا وجدت الماء لابد أن
... أطفي به مشعل جمر الغضا
Sumber:
الكتاب: طوق الحمامة في
الألفة والألاف
المؤلف: أبو محمد علي بن أحمد
بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Ketika Rahasia Cinta Terbongkar: Bahaya MengumbarPerasaan dalam Pandangan Ulama Klasik
Taat Karena Cinta: Ketika Hati Menundukkn Ego dalam Pandangan UlamaKlasik
Sang Pengkritik Cinta: Mengapa Orang Jatuh Cinta Selalu Memiliki “Aduhai
Penasehat”?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar