Pendahuluan
Dalam kehidupan ini, manusia
senantiasa mencari kebahagiaan dan kenikmatan. Sebagian mencarinya dalam
makanan yang lezat, minuman yang menyegarkan, kekayaan yang melimpah, kedudukan
yang tinggi, atau berbagai kesenangan dunia lainnya. Namun, apakah semua
kenikmatan itu merupakan puncak kebahagiaan yang sesungguhnya?
Ulama besar Andalusia, Ibnu Hazm,
memberikan jawaban yang menarik dalam kitab Al-Akhlaq wa As-Siyar fi
Mudawati an-Nufus. Menurut beliau, kenikmatan yang dirasakan oleh orang
berakal, orang berilmu, orang bijaksana, dan orang yang bersungguh-sungguh
beribadah kepada Allah jauh lebih tinggi daripada seluruh kenikmatan jasmani
yang biasa dikejar manusia.
Pandangan ini bukan sekadar teori,
melainkan hasil pengamatan mendalam terhadap hakikat manusia dan pengalaman
hidup yang panjang.
Teks Terjemahan
Ibnu Hazm berkata:
Kelezatan orang yang berakal dengan
kemampuan membedakan yang benar dan salah, kelezatan seorang alim dengan
ilmunya, kelezatan seorang bijak dengan hikmahnya, dan kelezatan seorang yang
bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah dengan kesungguhannya, lebih besar
daripada kelezatan orang yang makan dengan makanannya, orang yang minum dengan
minumannya, orang yang menyalurkan syahwatnya dengan syahwatnya, orang yang
memperoleh harta dengan hartanya, orang yang bermain dengan permainannya,
maupun orang yang memerintah dengan kekuasaannya.
Bukti atas hal itu adalah bahwa
orang bijak, orang berakal, orang berilmu, dan orang yang beramal juga mampu
merasakan seluruh kenikmatan dunia yang telah disebutkan sebagaimana
orang-orang yang tenggelam di dalamnya merasakannya.
Mereka mengetahui dan merasakan
nikmat-nikmat tersebut sebagaimana dirasakan oleh orang yang mengejarnya. Namun
mereka memilih meninggalkannya, berpaling darinya, dan lebih mengutamakan
keutamaan-keutamaan serta kemuliaan akhlak dibandingkan semua itu.
Sesungguhnya yang berhak memberikan
penilaian terhadap dua perkara hanyalah orang yang mengenal keduanya, bukan
orang yang hanya mengenal salah satunya sementara tidak mengenal yang lain.
Kenikmatan Akal Lebih Tinggi daripada Kenikmatan Tubuh
Ibnu Hazm memulai pembahasannya dengan
sebuah prinsip penting, yaitu adanya dua jenis kenikmatan dalam kehidupan
manusia:
- Kenikmatan jasmani.
- Kenikmatan ruhani dan intelektual.
Kenikmatan jasmani meliputi makan,
minum, syahwat, permainan, kekayaan, dan kekuasaan. Sementara kenikmatan ruhani
meliputi ilmu, hikmah, pemahaman, kedekatan kepada Allah, dan keberhasilan
memperbaiki diri.
Menurut Ibnu Hazm, kenikmatan kedua
jauh lebih tinggi daripada yang pertama.
Mengapa demikian?
Karena kenikmatan jasmani hanya
menyentuh tubuh dan berlangsung sementara. Adapun kenikmatan ilmu dan hikmah
menyentuh hati, akal, serta ruh manusia. Dampaknya lebih mendalam dan lebih
lama.
Seorang yang lapar akan merasa
senang ketika makan. Namun setelah kenyang, kenikmatan itu berakhir.
Sebaliknya, seorang pencari ilmu
dapat merasakan kebahagiaan setiap kali menemukan kebenaran baru. Bahkan
kebahagiaan itu sering kali terus hidup dalam dirinya sepanjang usia.
Kebahagiaan yang Hanya Dikenal oleh Orang Berilmu
Salah satu poin menarik dari
perkataan Ibnu Hazm adalah bahwa kebahagiaan ilmu hanya benar-benar dipahami
oleh orang yang pernah merasakannya.
Seorang peneliti yang berhasil
menemukan jawaban atas persoalan yang rumit merasakan kepuasan yang sulit
dijelaskan.
Seorang ulama yang memahami makna
ayat Al-Qur'an yang sebelumnya belum dipahaminya merasakan kegembiraan yang
tidak bisa dibeli dengan harta.
Seorang hamba yang berhasil
mengalahkan hawa nafsunya merasakan kemenangan batin yang jauh lebih berharga
daripada kemenangan atas musuh di medan perang.
Karena itu, para ulama sering
menghabiskan malam-malam mereka untuk membaca, menulis, dan berpikir, sementara
banyak orang lain menghabiskan waktunya untuk hiburan semata.
Mengapa Orang Bijak Tidak Terlalu Mengejar Dunia?
Ibnu Hazm memberikan argumen yang
sangat kuat.
Beliau mengatakan bahwa orang bijak
sebenarnya mengetahui kenikmatan dunia sebagaimana orang lain mengetahuinya.
Mereka juga makan.
Mereka juga minum.
Mereka juga memahami nilai harta dan
kedudukan.
Namun setelah mengenal semuanya,
mereka tetap memilih ilmu, hikmah, dan amal saleh.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa
mereka telah membandingkan kedua jenis kenikmatan itu secara langsung.
Seseorang yang belum pernah
merasakan nikmatnya ilmu mungkin mengira bahwa kekayaan adalah puncak
kebahagiaan.
Tetapi seseorang yang telah
merasakan keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda.
Karena itulah banyak ulama hidup
sederhana meskipun mereka memiliki kesempatan untuk mengejar kekayaan dan
kedudukan.
Siapa yang Lebih Layak Menilai?
Pada bagian akhir kutipan ini, Ibnu
Hazm menyampaikan sebuah kaidah penting:
"Yang berhak menilai dua
perkara adalah orang yang mengenal keduanya."
Prinsip ini berlaku dalam banyak
aspek kehidupan.
Seseorang yang belum pernah menuntut
ilmu secara serius tidak dapat menilai kenikmatan ilmu.
Seseorang yang belum pernah
merasakan manisnya ibadah tidak dapat menilai kenikmatan kedekatan kepada
Allah.
Sebaliknya, para ulama dan orang
saleh telah merasakan berbagai kenikmatan dunia sekaligus kenikmatan ilmu dan
ibadah. Oleh karena itu, kesaksian mereka memiliki bobot yang lebih kuat.
Ketika mereka memilih ilmu daripada
harta, atau ibadah daripada kemewahan, pilihan tersebut lahir dari pengalaman,
bukan sekadar teori.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari perkataan Ibnu Hazm ini,
terdapat beberapa pelajaran penting:
1.
Kebahagiaan tidak identik dengan kemewahan
Banyak orang memiliki kekayaan
tetapi tidak memiliki ketenangan hati.
2.
Ilmu adalah sumber kebahagiaan yang berkelanjutan
Semakin bertambah ilmu seseorang,
semakin luas pula kenikmatan yang dapat dirasakannya.
3.
Akhlak dan hikmah lebih berharga daripada harta
Harta dapat hilang, tetapi hikmah
akan tetap menjadi cahaya dalam kehidupan.
4.
Ibadah menghadirkan kenikmatan yang tidak dapat dibeli
Kedekatan kepada Allah merupakan
kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
5.
Jangan menilai sesuatu sebelum mengenalnya
Banyak orang meremehkan ilmu dan
ibadah karena belum pernah merasakan manisnya kedua hal tersebut.
Penutup
Dalam pandangan Ibnu Hazm,
kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau
besarnya kenikmatan jasmani. Kebahagiaan yang paling tinggi justru ditemukan
dalam ilmu, hikmah, akhlak yang mulia, dan kedekatan kepada Allah.
Orang berakal dan berilmu tidak
meninggalkan sebagian kesenangan dunia karena tidak mampu mendapatkannya,
melainkan karena mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Mereka telah merasakan kelezatan yang lebih tinggi, yaitu kelezatan memahami
kebenaran, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Inilah salah satu rahasia besar yang
disampaikan Ibnu Hazm dalam perjalanan panjangnya mengobati jiwa dan
memperbaiki akhlak manusia.
Wallahu
a'lam.
Teks
Asli :
مداواة
النُّفُوس وَإِصْلَاح الْأَخْلَاق لَذَّة الْعَاقِل بتمييزه وَلَذَّة الْعَالم
بِعِلْمِهِ وَلَذَّة الْحَكِيم بِحِكْمَتِهِ وَلَذَّة الْمُجْتَهد لله عز وجل
بِاجْتِهَادِهِ أعظم من لَذَّة الْآكِل بِأَكْلِهِ والشارب بشربه والواطئ
بِوَطْئِهِ والكاسب بِكَسْبِهِ واللاعب بلعبه والآمر بأَمْره وبرهان ذَلِك أَن
الْحَكِيم والعاقل والعالم وَالْعَامِل واجدون لسَائِر اللَّذَّات الَّتِي سمينا كَمَا
يجدهَا المنهمك فِيهَا ويحسونها كَمَا يحسها الْمقبل عَلَيْهَا وَقد تركوها
وأعرضوا عَنْهَا وآثروا طلب الْفَضَائِل عَلَيْهَا وَإِنَّمَا يحكم فِي
الشَّيْئَيْنِ من عرفهَا لَا من عرف أَحدهمَا وَلم يعرف الآخر
Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt
an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)
Penulis: Ali bin
Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali
bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun
456 H)
Baca juga:
Hakikat Dunia Menurut Ibnu Hazm: Semua Harapan Berujung
Kesedihan, Kecuali Amal Akhirat
Sahabat Setia dalam Cinta: Nikmat Terbesar yang Sering Dilupakan Para Pecinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar