Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal Itu Ilmu, Cahaya, atau Fitrah?


Meta Description: Apa sebenarnya akal menurut Imam Al-Muhasibi? Simak penjelasan lengkap tentang hakikat akal, hubungan akal dan ilmu, serta perbedaan antara akal, kebodohan, dan kegilaan dalam perspektif Islam.

Pendahuluan

Ketika berbicara tentang akal, banyak orang menganggap bahwa akal identik dengan kecerdasan, ilmu pengetahuan, atau kemampuan berpikir logis. Namun, bagaimana para ulama salaf memahami hakikat akal?

Salah satu pembahasan paling menarik tentang akal dapat ditemukan dalam kitab Māhiyyatul ‘Aql wa Ma’nāhu wa Ikhtilāfin Nās Fīhi karya Imam Al-Harits Al-Muhasibi (wafat 243 H), seorang ulama besar yang dikenal sebagai pelopor ilmu tazkiyatun nafs dan muhasabah diri.

Dalam pembukaan kitabnya, Al-Muhasibi mengajukan pertanyaan mendasar:

"Apakah sebenarnya akal itu?"

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya menyentuh inti dari kehidupan manusia, iman, ilmu, dan tanggung jawab moral.

Tiga Makna Akal Menurut Al-Muhasibi

Al-Muhasibi menjelaskan bahwa istilah akal dalam bahasa Arab dan dalam penggunaan para ulama memiliki tiga makna.

Beliau berkata bahwa salah satunya merupakan makna hakiki, sedangkan dua makna lainnya adalah nama yang diberikan karena keduanya merupakan buah dan hasil dari akal.

Dengan kata lain, tidak semua yang disebut "akal" adalah hakikat akal itu sendiri. Sebagian hanyalah dampak dan manifestasi dari akal.

Menurut beliau:

"Salah satunya adalah makna hakiki yang tidak memiliki makna lain selain itu. Sedangkan dua makna lainnya hanyalah penamaan yang dibolehkan oleh bangsa Arab karena keduanya merupakan perbuatan yang lahir dari akal."

Dari sini Al-Muhasibi ingin mengajak pembacanya membedakan antara hakikat suatu perkara dan akibat yang muncul darinya.

Akal Adalah Fitrah yang Ditanamkan Allah

Menurut Al-Muhasibi, hakikat akal bukanlah ilmu, bukan pula sekadar kemampuan berpikir.

Beliau menegaskan:

"Adapun akal dalam makna hakikatnya, maka ia adalah gharizah (fitrah atau naluri bawaan) yang Allah letakkan dalam diri manusia."

Pandangan ini sangat penting.

Akal bukan sesuatu yang dipelajari terlebih dahulu, melainkan potensi dasar yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia sejak lahir.

Sebagaimana mata diciptakan untuk melihat dan telinga diciptakan untuk mendengar, demikian pula akal diciptakan untuk memahami, menimbang, dan mengenali kebenaran.

Karena itu manusia memiliki tanggung jawab yang tidak dimiliki makhluk lain.

Mengapa Akal Sulit Didefinisikan?

Al-Muhasibi menjelaskan bahwa akal tidak dapat dijelaskan melalui bentuk fisik.

Akal tidak memiliki:

  • warna,
  • ukuran,
  • panjang,
  • lebar,
  • rasa,
  • bau,
  • ataupun bentuk yang bisa disentuh.

Akal hanya dapat dikenali melalui pengaruh dan aktivitasnya.

Kita mengetahui seseorang memiliki akal yang baik dari keputusan yang ia ambil, dari cara ia memahami suatu perkara, dan dari kemampuan membedakan yang benar dan yang salah.

Hal ini mirip dengan cara kita mengetahui adanya listrik. Kita tidak melihat listrik secara langsung, tetapi kita melihat dampaknya berupa cahaya, panas, atau gerakan.

Demikian pula akal dikenal melalui buah yang dihasilkannya.

Pendapat Para Ulama Tentang Akal

Al-Muhasibi kemudian menyebutkan beberapa pendapat yang berkembang pada zamannya.

1. Akal Adalah Saripati Ruh

Sebagian ahli kalam berpendapat bahwa akal merupakan inti atau saripati ruh.

Mereka berdalil dengan penggunaan kata lubb (inti) dalam bahasa Arab.

Karena akal dianggap bagian paling murni dari manusia, maka ia disebut lubb.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah ulul albab."

Yakni orang-orang yang memiliki akal.

Meskipun demikian, Al-Muhasibi tidak menerima pendapat tersebut begitu saja.

Beliau menegaskan bahwa perkara semacam ini memerlukan landasan yang jelas dari Al-Qur'an atau hadis.

Karena tidak ditemukan dalil yang tegas, beliau tidak menjadikannya sebagai definisi utama.

2. Akal Adalah Cahaya dalam Hati

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa akal adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati.

Mereka membuat analogi yang menarik:

  • Penglihatan adalah cahaya pada mata.
  • Akal adalah cahaya pada hati.

Sebagaimana mata membutuhkan cahaya untuk melihat benda-benda di sekitarnya, hati membutuhkan cahaya akal untuk memahami makna dan hakikat sesuatu.

Pandangan ini memiliki nilai yang dalam karena menunjukkan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan mata, melainkan kebutaan hati.

Seseorang mungkin memiliki mata yang sehat tetapi tidak mampu melihat kebenaran karena cahaya akalnya tertutup oleh hawa nafsu dan kesombongan.

Mengapa Akal Bukan Ilmu?

Salah satu bagian terpenting dari pembahasan Al-Muhasibi adalah bantahannya terhadap pendapat yang mengatakan bahwa akal adalah ilmu atau pengetahuan.

Beliau menolak pandangan tersebut.

Menurutnya, ilmu adalah sesuatu yang lahir dari akal, bukan akal itu sendiri.

Akal adalah alat, sedangkan ilmu adalah hasil.

Akal adalah kemampuan, sedangkan ilmu adalah isi yang diperoleh melalui kemampuan tersebut.

Beliau memberikan argumen yang sangat menarik.

Jika akal adalah ilmu, maka lawan dari akal seharusnya adalah kebodohan.

Namun kenyataannya para ulama membedakan antara:

  • orang bodoh,
  • orang dungu,
  • dan orang gila.

Seseorang yang tidak memiliki ilmu belum tentu gila.

Sebaliknya, orang gila bisa saja pernah memiliki ilmu, tetapi kehilangan kemampuan dasar yang membuatnya dapat menggunakan ilmu tersebut.

Karena itu akal tidak identik dengan ilmu.

Perbedaan Antara Bodoh dan Gila

Al-Muhasibi menunjukkan bahwa bahasa Arab sendiri membedakan antara kebodohan dan kegilaan.

Orang yang tidak mengetahui sesuatu disebut jahil (bodoh).

Sedangkan orang yang kehilangan kemampuan akalnya disebut majnun (gila).

Perbedaan istilah ini menunjukkan bahwa akal dan ilmu adalah dua hal yang berbeda.

Ilmu dapat bertambah dan berkurang.

Namun akal merupakan fondasi yang memungkinkan seseorang memperoleh ilmu.

Karena itu seseorang mungkin:

  • berakal tetapi belum berilmu,
  • berilmu tetapi pemanfaatan akalnya lemah,
  • atau kehilangan akalnya sehingga tidak mampu memanfaatkan ilmu yang dimilikinya.

Akal Sebagai Sumber Pengakuan dan Penolakan

Menurut Al-Muhasibi, akal adalah fitrah yang membuat manusia mampu:

  • mengenali sesuatu lalu menerimanya,
  • mengenali sesuatu lalu menolaknya,
  • mempertimbangkan sesuatu lalu mengambil keputusan.

Dengan kata lain, akal adalah pusat penilaian dan pertimbangan.

Melalui akal manusia dapat membedakan:

  • manfaat dan mudarat,
  • kebenaran dan kesalahan,
  • petunjuk dan kesesatan.

Karena itulah Allah menjadikan akal sebagai dasar taklif (beban syariat).

Orang yang kehilangan akal tidak dibebani kewajiban sebagaimana orang yang berakal.

Pelajaran Penting dari Pandangan Al-Muhasibi

Dari pembahasan ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.

1. Akal adalah amanah dari Allah

Akal bukan hasil usaha manusia semata. Ia adalah karunia yang ditanamkan Allah sejak lahir.

2. Ilmu harus dibangun di atas akal yang sehat

Banyaknya informasi tidak menjamin seseorang bijaksana jika akalnya tidak digunakan dengan benar.

3. Akal membutuhkan bimbingan wahyu

Akal mampu mengenali banyak hal, tetapi kesempurnaannya tercapai ketika dipandu oleh Al-Qur'an dan Sunnah.

4. Kecerdasan bukan ukuran utama

Dalam pandangan Islam, akal bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan memahami kebenaran dan tunduk kepadanya.

Penutup

Imam Al-Muhasibi mengajarkan bahwa hakikat akal bukanlah sekadar ilmu atau kecerdasan, melainkan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Dari fitrah inilah lahir kemampuan untuk memahami, menimbang, menerima kebenaran, dan menolak kebatilan.

Ilmu, hikmah, dan kebijaksanaan hanyalah buah dari akal yang digunakan dengan benar. Karena itu, orang yang paling berakal bukanlah yang paling banyak mengetahui, tetapi yang paling mampu menggunakan akalnya untuk mengenal Allah, memahami petunjuk-Nya, dan menjalani hidup sesuai dengan kebenaran.

Dengan demikian, akal dalam pandangan Al-Muhasibi bukan hanya alat berpikir, melainkan pintu menuju ma'rifat, keimanan, dan keselamatan di dunia serta akhirat.

Referensi:

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم
عونك اللَّهُمَّ
قَالَ أَبُو عبد الله الْحَارِث بن أَسد بن عبد الله المحاسبي الْبَصْرِيّ
رَحْمَة الله عَلَيْهِ
سَأَلت عَن الْعقل مَا هُوَ
وَإِنِّي أرجع إِلَيْك فِي اللُّغَة والمعقول من الْكتاب وَالسّنة وتراجع الْعلمَاء فِيمَا بَينهم بِالتَّسْمِيَةِ ثَلَاثَة مَعَاني

أَحدهَا هُوَ مَعْنَاهُ لَا معنى لَهُ غَيره فِي الْحَقِيقَة
والآخران اسمان جوزتهما الْعَرَب إِذْ كَانَا عَنهُ فعلا لَا يكونَانِ إِلَّا بِهِ وَمِنْه وَقد سَمَّاهَا الله تَعَالَى فِي كِتَابه وسمتها الْعلمَاء عقلا
فَأَما مَا هُوَ فِي الْمَعْنى فِي الْحَقِيقَة لَا غَيره فَهُوَ غريزة وَضعهَا

فَهُوَ غريزة لَا يعرف إِلَّا بفعاله فِي الْقلب والجوارح لَا يقدر أحد أَن يصفه فِي نَفسه وَلَا فِي غَيره بِغَيْر أَفعاله
لَا يقدر أَن يصفه بجسمية وَلَا بطول وَلَا بِعرْض وَلَا طعم وَلَا شم وَلَا مجسة وَلَا لون وَلَا يعرف إِلَّا بأفعاله
وَقَالَ قوم من الْمُتَكَلِّمين هُوَ صفوة الرّوح أَي خَالص الرّوح
وَاحْتَجُّوا باللغة فَقَالُوا لب كل شَيْء خالصه فَمن أجل ذَلِك سمي الْعقل لبا وَقَالَ الله عز وجل ﴿إِنَّمَا يتَذَكَّر أولُوا الْأَلْبَاب﴾ يَعْنِي أولي الْعُقُول
وَلَا نقُول ذَلِك إِذا لم نجد فِيهِ كتابا مسطورا وَلَا حَدِيثا مأثورا
وَقَالَ قوم هُوَ نور وَضعه الله طبعا وغريزة يبصر بِهِ ويعبر بِهِ
نور فِي الْقلب كالنور فِي الْعين وَهُوَ الْبَصَر
فالعقل نور فِي الْقلب وَالْبَصَر نور فِي الْعين

فالعقل غريزة يُولد العَبْد بهَا ثمَّ يزِيد فِيهِ معنى بعد معنى بالمعرفة بالأسباب الدَّالَّة على الْمَعْقُول
وَقد زعم قوم أَن الْعقل معرفَة نظمها الله ووضعها فِي عباده يزِيد ويتسع بِالْعلمِ المكتسب ١٠٦ الدَّال على الْمَنَافِع والمضار
وَالَّذِي هُوَ عندنَا أَنه غريزة والمعرفة عَنهُ تكون
وَكَذَلِكَ الْجُنُون والحمق لَا يُسمى نكرَة لِأَنَّهُ لَو كَانَ الْمعرفَة هُوَ الْعقل سمي الْجُنُون نكرَة والحمق نكرَة لِأَن النكرَة ضد الْمعرفَة وَالْجهل ضد الْعلم
فَلَمَّا امْتنع أهل الْعلم أَن يسموا الْمَجْنُون مُنْكرا جَاهِلا وَلَا يسمون الْمُنكر مَجْنُونا وَالْجَاهِل مَجْنُونا وَقَالُوا بِأَنَّهُ مَجْنُون صَحَّ مَا قُلْنَاهُ

وَمِمَّا يدل على أَن الْعقل هُوَ الغريزة الَّتِي بهَا عرف فَأقر وَعرف فَأنْكر أَو ظن فَأنْكر لِأَن الْإِنْكَار فعل فَكَذَلِك ضد الْمعرفَة فعل
فَمِنْهُ فعل عَن طبع يُوجِبهُ الطَّبْع كالضرة كمعرفة

وَفِي الصمت ستر العي يَوْمًا وَإِنَّمَا
صحيفَة لب الْمَرْء أَن يتكلما ...

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal Itu Ilmu, Cahaya, atau Fitrah?

Meta Description : Apa sebenarnya akal menurut Imam Al-Muhasibi? Simak penjelasan lengkap tentang hakikat akal, hubungan akal dan ilmu, s...